Awalnya anak cuma minta top-up sekali. Besoknya minta lagi karena ada event baru. Minggu berikutnya, ia bilang teman-temannya sudah punya skin yang lebih keren.
Tanpa sadar, pengeluaran kecil itu menumpuk.
Banyak orang tua baru sadar saat tagihan membengkak di akhir bulan. Ternyata ada pembelian diamond, skin, Robux, battle pass, atau item game lain dari HP anak.
Masalahnya, anak sering belum paham bahwa koin, diamond, atau Robux tetap dibeli dengan uang sungguhan. Di mata mereka, semua itu hanya angka di layar.
Padahal, uang jajan digital anak tetap bagian dari keuangan keluarga. Kalau tidak diberi batas sejak awal, pembelian kecil bisa berubah menjadi kebiasaan boros yang sulit dikendalikan.
Cara mengatur uang jajan digital anak adalah dengan menetapkan budget bulanan, mengaktifkan parental control, tidak menautkan kartu kredit atau paylater di HP anak, memakai metode top-up manual, dan mengajak anak memahami bahwa item game tetap dibeli dengan uang sungguhan.
Mengapa Pengeluaran Digital Anak Sering Kali Sulit Terkontrol?
Game modern banyak memakai sistem microtransaction. Nominalnya terlihat kecil, misalnya untuk membeli diamond, skin, battle pass, atau item premium.
Kelihatannya ringan. Tapi kalau berulang, tetap bocor juga.
Dikutip dari laporan Ofcom tentang belanja online anak, 58% anak usia 8–17 tahun di Inggris pernah menghabiskan uang online dalam sebulan terakhir. Dari anak yang bermain game online, 53% mengaku menghabiskan uang di dalam game. Pembelian yang paling sering dilakukan adalah in-game currency sebesar 40% dan item kosmetik seperti skin sebesar 26%.
Temuan lain yang dirangkum 5Rights Foundation juga menunjukkan bahwa 32% anak menyesali pembelian yang mereka lakukan di game, 42% merasa tidak jelas dengan apa yang dibeli, dan 41% mengaku pernah belanja lebih dari seharusnya.
Jadi, kalau anak terus meminta diamond atau skin baru, masalahnya tidak selalu sesederhana “anak boros”. Game memang dibuat menarik, teman-teman mereka juga bisa memberi tekanan, dan uang virtual sering terasa tidak seperti uang sungguhan.
Menurut laporan Ofcom tentang persuasive design, sebagian orang tua merasa ikut tertekan karena anak sering meminta uang tambahan agar bisa mengikuti teman yang punya item kosmetik atau akun premium.
Bahaya Menautkan Kartu Kredit atau Paylater di Smartphone Anak
Menautkan kartu kredit, debit, atau paylater langsung ke akun Google Play dan App Store anak memang praktis. Namun, ini bisa berbahaya jika tidak diawasi.
Satu klik bisa menjadi transaksi berulang. Apalagi jika autentikasi pembelian tidak aktif atau anak sudah terbiasa memakai perangkat tanpa pendampingan.
Risikonya bukan hanya tagihan besar. Orang tua juga bisa kesulitan mengajukan refund jika item sudah digunakan, transaksi dianggap valid, atau pengajuan dilakukan di luar ketentuan platform.
Google menjelaskan bahwa orang tua dalam family group bisa mewajibkan anggota keluarga meminta izin sebelum membeli atau mengunduh konten di Google Play, termasuk pembelian dalam aplikasi.
Kalau anak memang sesekali boleh top-up, lebih aman jika orang tua tetap memegang kendali pembeliannya. Misalnya, top-up dilakukan manual lewat pasartopup sesuai jatah yang sudah disepakati, bukan lewat kartu kredit atau paylater yang tersimpan di HP anak.
Dengan cara ini, anak tetap bisa menikmati game, tetapi tahu bahwa ada batasnya. Orang tua pun tidak perlu waswas setiap kali anak memegang HP, karena pembelian tidak bisa berjalan otomatis tanpa izin.
Misalnya, bulan ini anak mendapat jatah Rp50.000. Orang tua cukup melakukan top-up sesuai batas tersebut melalui https://pasartopup.id/, lalu jelaskan bahwa jatah bulan ini sudah selesai jika saldo sudah dipakai.
Agar lebih mudah dipahami, berikut gambaran masalah yang sering muncul dan langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua.
| Masalah | Risiko untuk Keluarga | Solusi Orang Tua |
|---|---|---|
| Anak membeli item game impulsif | Budget bocor karena pembelian kecil berulang | Tetapkan batas uang jajan digital anak |
| Kartu kredit/paylater tersimpan di HP | Transaksi bisa terjadi tanpa pengawasan | Hapus metode pembayaran otomatis |
| Anak belum paham uang virtual | Diamond atau Robux terasa seperti uang mainan | Jelaskan bahwa item game dibeli dengan uang sungguhan |
| Anak terpengaruh teman mabar | Anak ingin membeli skin agar tidak tertinggal | Ajak diskusi tanpa langsung menghakimi |
| Tidak ada aturan top-up | Anak terus meminta tambahan saldo | Gunakan top-up manual sesuai budget |
| Transaksi tidak dipantau | Tagihan baru terlihat saat membengkak | Aktifkan parental control dan cek riwayat transaksi |
5 Cara Bijak Mengatur Uang Jajan Digital Anak

1. Ajak Anak Berdiskusi dan Sepakati Budget Bulanan
Mulailah dari obrolan yang tenang. Jangan tunggu anak merengek dulu, karena diskusi biasanya lebih mudah berubah jadi adu argumen.
Jelaskan bahwa anak tetap boleh bermain game. Namun, uang untuk membeli item game harus punya batas, sama seperti uang jajan sekolah.
Contohnya, orang tua bisa membuat aturan: “Kamu tetap boleh top-up, tapi bulan ini batasnya Rp50.000. Kalau sudah habis, kita tunggu bulan depan.”
Nominal ini hanya contoh. Setiap keluarga bisa menyesuaikannya dengan usia anak, kebiasaan bermain, dan kondisi keuangan rumah tangga.
2. Gunakan Kalimat yang Tidak Menghakimi Anak
Cara menyampaikan aturan sangat menentukan. Hindari kalimat seperti, “Kamu boros banget, main game terus.”
Coba ganti dengan kalimat yang lebih tenang:
“Ayah/Ibu tahu kamu suka game itu. Tapi uang untuk beli item tetap harus dibatasi. Jadi bulan ini kita pilih yang paling kamu butuhkan dulu, ya.”
Kalimat seperti ini membuat anak merasa didengar. Orang tua tetap tegas, tetapi tidak membuat anak merasa diserang.
3. Aktifkan Fitur Parental Control
Nasihat saja sering tidak cukup. Orang tua juga perlu menyiapkan pagar teknis agar transaksi anak tetap bisa dipantau.
Aktifkan persetujuan pembelian, autentikasi transaksi, notifikasi pembayaran, dan pembatasan unduhan aplikasi. Untuk pengguna Android, Google Family Link bisa membantu orang tua mengatur aplikasi, waktu layar, dan kontrol pembelian anak.
Parental control bukan tanda tidak percaya. Ini pagar pengaman sampai anak cukup matang mengelola uangnya sendiri.
4. Terapkan Sistem Reward Berbasis Tugas
Uang jajan digital tidak harus diberikan cuma-cuma. Orang tua bisa menjadikannya reward jika anak berhasil menyelesaikan tanggung jawab tertentu.
Misalnya, anak boleh mendapat tambahan jatah top-up jika rajin belajar, membantu merapikan kamar, atau konsisten menyelesaikan tugas rumah.
Namun, jangan membuat semua tugas rumah terasa seperti transaksi. Fokus utamanya tetap membangun tanggung jawab, bukan membuat anak hanya mau membantu kalau ada imbalan.
5. Gunakan Dompet Digital Terpisah dengan Saldo Terbatas
Jika anak sudah cukup besar, orang tua bisa mengenalkan dompet digital dengan saldo terbatas. Saldo ini diisi di awal bulan sesuai kesepakatan.
Jika saldo habis dalam satu minggu, tidak ada tambahan sampai bulan berikutnya. Dari situ, anak belajar melihat akibat dari keputusan belanja sendiri.
Tetap dampingi penggunaannya. Hindari memberikan akses bebas ke paylater, kartu kredit, atau rekening utama keluarga.
Dilansir dari Allianz Indonesia, keamanan transaksi digital bisa dijaga dengan memeriksa keaslian merchant, tidak membagikan data pribadi seperti nomor kartu kredit dan kata sandi, serta memakai metode pembayaran digital resmi.
Kesimpulan
Mengatur uang jajan digital anak adalah bagian dari literasi finansial keluarga. Anak boleh menikmati hiburan digital, tetapi tetap perlu memahami batas, prioritas, dan nilai uang.
Kalau anak terus meminta top-up, jangan langsung menganggapnya boros. Bisa jadi ia sedang terpengaruh teman, event game, atau belum paham bahwa uang virtual tetap punya nilai nyata.
Mulailah dari langkah sederhana: cek metode pembayaran yang tertaut di HP anak, aktifkan parental control, tetapkan budget bulanan, dan gunakan metode top-up manual yang lebih terkontrol.
Jangan tunggu tagihan membengkak dulu. Cek pengaturan billing di gawai anak sekarang, lalu buat aturan yang jelas bersama anak saat suasana rumah sedang tenang.
FAQ: Pertanyaan Seputar Uang Jajan Digital Anak
Apakah aman memberikan akses dompet digital pada anak usia sekolah dasar?
Aman jika saldo dibatasi dan tetap dalam pengawasan orang tua. Untuk anak sekolah dasar, dompet digital sebaiknya belum diberi akses penuh.
Gunakan sebagai alat belajar, bukan rekening bebas pakai. Orang tua tetap perlu memantau riwayat transaksi dan memberi batas yang jelas.
Bagaimana cara meminta refund jika anak tidak sengaja membeli item game mahal?
Untuk Google Play, orang tua bisa mengajukan refund melalui halaman bantuan Google Play. Untuk perangkat Apple, Apple menjelaskan bahwa pengguna dapat meminta refund lewat reportaproblem.apple.com dengan memilih “Request a refund”, memilih alasan, lalu mengirim permintaan.
Namun, refund tidak selalu disetujui. Karena itu, pencegahan tetap lebih penting daripada mengurus pengembalian dana setelah transaksi terjadi.
Berapa persen ideal uang saku anak untuk hiburan digital?
Tidak ada persentase tunggal yang ideal untuk semua keluarga. Orang tua bisa mulai dari nominal kecil yang tidak mengganggu kebutuhan utama anak.
Yang penting, anak memahami bahwa jajan game adalah hiburan, bukan kebutuhan utama. Jika budget habis, anak perlu belajar menunggu sampai periode berikutnya.
Referensi
Allianz Indonesia. “5 Tips Aman Transaksi Digital dan Lindungi Data Pribadi.” Allianz Indonesia, https://www.allianz.co.id/explore/5-tips-aman-transaksi-digital-dan-lindungi-data-pribadi.html.
Apple Support. “Request a Refund for Apps or Content That You Bought from Apple.” Apple Support, https://support.apple.com/en-us/118223.
Google For Families Help. “Purchase Approvals on Google Play.” Google Help, https://support.google.com/families/answer/7039872?hl=en-GB.
Google For Families Help. “Manage Your Child’s Google Account with Family Link.” Google Help, https://support.google.com/families/answer/7103262?hl=en.
Ofcom. “Children’s Online Spending and Potential Financial Harm.” Ofcom, 2025, https://www.ofcom.org.uk/siteassets/resources/documents/online-safety/research-statistics-and-data/online-services-research/childrens-online-spending-and-potential-financial-harm-quantitative-research.pdf?v=400633.
Ofcom. “Persuasive Design Features and Potential Child Financial Harms.” Ofcom, 2025, https://www.ofcom.org.uk/siteassets/resources/documents/online-safety/research-statistics-and-data/online-services-research/persuasive-design-features-and-potential-child-financial-harms-report.pdf.
5Rights Foundation. “New Research Reveals How Children Face Financial Harm Online.” 5Rights Foundation, https://5rightsfoundation.com/new-research-reveals-how-children-face-financial-harm-online/.